Rukun Islam Asli hanya Satu. Bukan Lima

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSC77bs_z3Vqn6NibW0WookZkVCO0RJRCbJwfiROv4LJ0qMLe7b

Selama ini saya diberi tahu, lalu diwajibkan menyakini bahwa rukun Islam itu ada 5:

Membaca 2 kalimat syahadat.
Mendirikan Sholat
Melaksanakan Puasa
Menunaikan Zakat
Naik haji ke Mekkah bagi yang mampu.
Jika saya tidak melakukan kelima hal itu maka saya dinyatakan bukanlah seorang yang beragama Islam. Lalu benarkah semua itu sudah saya lakukan? Sejauh ini, saya hanya melakukannya sampai rukun keempat. Sedangkan rukun yang kelima belum pernah. Kenapa? Karena saya belum mampu. Belum punya uang untuk terbang ke Mekkah.

Khusus untuk rukun yang kelima ini (Naik haji ke Mekkah bagi yang mampu ) bagi saya adalah pernyataan yang ngawur. Katanya wajib. Tapi kenapa ada keterangan "bagi yang mampu." Jadi sekarang, saya mual membaca rukun yang kelima. Dan seandainya saya mampu dan sampai ke Mekkah, maka saya tidak akan menganggap perjalanan saya ke Mekkah sebagai rukun Islam. Tapi sebagai rekreasi sejarah. Saya hanya pergi melihat jejak sejarah kebudayaan Islam di tanah Arab. Ini mekkah, itu ka'bah. Disana Mesjid Nabawi. Disana Muhammad dilahirkan. Dan seterusnya. Hanya sebuah napak tilas sejarah. Hingga saya takjub. Bahwa itulah bukti sejarah di tanah Arab. Sebuah kebudayaan di abad ke-7 masehi.

Dan siapapun, bisa melakukan semua itu. Termasuk melakukan semua ritualnya tanpa harus dibaptis menjadi seorang yang bergama Islam. Soal melempar jumrah, berlari kecil mengelilingi ka'bah, mencium hajar aswat, dan seterusnya, bagi saya kegiatan biasa-biasa saja. Asal fisik lagi sehat, lagi vit, lalu dilatih, maka siapapun bisa. Karena semua gerakan itu hanya tindakan badani. Bahkan mirip prilaku kekanak-kanakan. Yang mahal bagi saya adalah, penghayatan bathinnya. Dan untuk penghayatan bathin, tidak perlu harus menyembah ka'bah dengan segala artefak sejarah yang mengitarinya. Karena mijrat bathin tak mengenal tempat. Karena sajadah hakikinya ada dalam diri. Di dalam hati. Dan melihatnya dengan mata bathin spiritual.

Sekarang kembali pada judul.

Kenapa saya katakan rukun Islam asli hanya satu. Bukan lima?

Tentu saja ini kreasi dan penafsiran saya sendiri.
Saya mulai dari definisi (saya menggunakan kamus Erianto Anas)

Rukun bagi saya artinya fondasi. Elemen dasar. Roh. Substansi.
Sedang Islam bagi saya artinya adalah pasrah. Pasrah pada Kebenaran.
Dan Kebenaran bagi saya adalah kenyataan.
Dan kenyataan bagi saya adalah apa yang saya alami secara nyata.
Baik secara pribadi dalam diri maupun yang saya alami secara sosial dalam interaksi dengan orang lain. Begitu juga interaksi antara saya dengan lingkungan sekitar. Dengan alam yang melingkupi saya.

Singkatnya, kebenaran bagi saya adalah realitas.

Jadi Islam bagi saya akhirnya adalah pasrah pada kenyataan. Menerima kenyataan hidup apa adanya dengan segala dinamikanya. Karena kenyataan itu tidak terbantah. Saya bisa berkehendak, berusaha, berbuat, dan seterusnya. Tapi hasil akhirnya tetaplah akumulasi interaksi antara semua gejolak dalam diri saya dengan lingkungan yang melingkupi saya. Baik interaksi fisik maupun psikologis (sikap bathin). Dan saya harus menerima kenyataan itu. Tanpa mengeluh, tanpa mengumpat, apalagi mencari kambing hitam. Tanpa melemparkan kesahalan pada orang lain, pada Setan (bahwa semua itu adalah gara-gara godaan Setan). Atau karena ulah cobaan Tuhan. TIDAK. Semua itu adalah karena kesalahan dan aktivitas saya sendiri. Dan secara totalitas adalah karena dinamika mekanisme hukum alam.

Dan itu bersifat Universal. Berlaku dimana saja dan kapan saja. Dan bagi siapa saja. Tidak hanya bagi manusia, tapi untuk semua penghuni Jagat Raya. Sampai dengan atom sekalipun. Dengan kata lain, ada Hukum Universal yang bekerja. Yang inklud dalam alam dan kehidupan. Dan saya mengaminkan semua itu tanpa ragu. Karena memang semua itu terbukti dan tidak terbantah.

Itulah rukun Islam bagi saya.
Saya berkata YA pada kehidupan.
Dan memaklumi nilai-nilai Kebenaran Universal itu.
Baik secara material, spiritual maupun moralitas.

Lain dari itu, bagi saya bukan Islam.
Tapi hanya omong kosong Islam.

Jadi soal rukun Islam yang lima itu,
Bagi saya hanya rincian asesories. Semacam paket ritual yang disusun untuk mengantar kesadaran umat manusia agar tergiring menuju puncak penghayatan rukun Islam yang satu. Dan itu muncul di tanah Arab. Yang keluar dari mulut Muhammad, sebagai percikan meditasi spiritualnya. Hanya saja kemudian, semua itu dijadikan monumen oleh pengikutnya. Lalu disembah secara harfiah secara berjamaah dari abad ke abad.

Bagi saya, setiap manusia, di setiap tempat dan zaman, harus membuat paket ritualnya sendiri. Harus menemukan model ritual dan mantra spiritualnya sendiri agar mereka benar-benar terinspirasi untuk menghayati rukun Islam yang satu. Apapun agamanya. Karena Islam bagi saya hanya sebuah istilah. Istilah untuk menyatakan sebuah sikap spiritualitas dan moralitas Universal. Sehingga apapun model ritual meditasinya, sepanjang mengarah pada kesadaran itu, maka bagi saya itulah Islam. Dan secara metaforis, bila itu sudah menjadi kesadaran, meski dengan istilah dan sebutan apapun, pada hakiktanya mereka sudah mengamalkan rukun Islam.[blogernas.blogspot.com]

0 komentar:

Poskan Komentar