AWAS!! MENIKAH MUDA BISA PICU GANGGUAN MENTAL WANITA


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtT-JDHywnmZHfn2UfEQUw7_IkKFJ652BSVzbuCKU6D4MOLEaui7jQsSi9eNuc_xKu7_74pvogQMDbV6RbXzXk1jLvKddUbACXAhTND5A6Of8A0LHwXKYpIrH8WFP2_2poskfsIKJQZv0/s1600/nikah+muda.jpg
menikah-muda-bisa-picu-gangguan-mental.htmlDi perkotaan, pernikahan di usia muda sudah jarang ditemukan. Namun di daerah pinggiran atau pedesaan, wanita menikah di usia sangat muda masih jamak terjadi. Peneliti menemukan, pernikahan di usia muda berefek negatif pada kesehatan mental wanita di masa depan.

Artikel dalam jurnal Pediatrics menyebut, wanita yang menikah di bawah usia 18 tahun lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gangguan depresi, kecemasan dan bipolar. Mereka juga lebih cenderung mengalami ketergantungan pada alkohol, obat-obatan dan nikotin.

Dr Yann Le Strat, penulis utama studi tersebut, mengatakan pernikahan merupakan beban besar di usia yang tergolong kanak-kanak. "Menikah di usia muda, potensi gangguan mental meningkat 41 persen. Pernikahan di usia kanak-kanak menimbulkan trauma psikologis besar," katanya kepada The Huffington Post.

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, peneliti mengandalkan wawancara lebih dari 18.000 wanita dalam Survei Epidemiologi Nasional Alkohol. Mereka menemukan, perkawinan usia anak dikaitkan dengan penduduk asli, tingkat pendidikan dan pendapatan rendah dan tinggal di daerah pedesaan.

Namun studi ini tidak menyelidiki mengapa perkawinan anak memengaruhi kesehatan mental anak. "Pendapat saya, menikah sesuatu yang indah bagi orang dewasa, dan ini merupakan pilihan penting," katanya.

"Tapi pernikahan di usia masih kanak atau remaja--bahkan di negara maju seperti AS-- berhubungan dengan tekanan keluarga dan pemaksaan seksual oleh suami sama seperti yang terjadi di negara berkembang."

Pengantin wanita yang masih belia sangat rentan dan membutuhkan lebih banyak perhatian dan perawatan mental.

Penulis penelitian mengakui, adanya keterbatasan 'konteks sosial' dalam perkawinan anak yang tidak memperhitungkan faktor seperti pilihan sendiri, hamil di luar nikah, keagamaan atau tekanan keluarga. Perlu studi lebih lanjut untuk mengetahui faktor apa yang berkorelasi terhadap gangguan mental pada pernikahan di usia dini. "Diperlukan studi lanjutan yang menganalisis wanita selama bertahun-tahun sejak remaja untuk mengetahui seputar hubungan mereka."


0 komentar:

Posting Komentar