Inilah Kisah SBY Murka Diancam Nazar


 
Jakarta - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat berang. Ia menggebrak meja di depannya dan membentak Muhammad Nazaruddin.
Saat itu, 23 Mei 2011 pagi, Nazar dan sejumlah elit partai dipanggil SBY di kediamannya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Kala itu Nazar belum jadi tersangka kasus suap Kemenpora terkait proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang. Tapi Nazar saat itu sudah menjadi sorotan publik setelah anak buahnya Mindo Rosalina Manulang ditangkap KPK bersama Sekretaris Kemenpora Wafid Muharam.

Bertemu SBY, Nazar bukannya minta maaf, malah mengancam Ketua Dewan Pembina PD itu. Dengan jumawa, Nazar mengungkap orang penting di PD akan terseret kalau ia sampai diproses hukum. "Jadi Pak kalau nanti saya dijadikan tersangka semua akan kena, Anas kena, Ibas juga kena," kata Nazar kepada SBY seperti diungkap sumber detikcom.

Tidak ayal pernyataan Nazar pun membuat SBY murka. "Silakan buka saja. Kalau anak saya harus diperiksa biar saja. Saya tidak takut," kata sang sumber menirukan pernyataan SBY yang marah besar.

Setelah mendapat kemarahan SBY, sore harinya Nazar pun kabur ke Singapura. Belakangan Nazar mengklaim pergi ke Singapura atas suruhan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum. Sementara usai SBY murka, malam harinya Dewan Kehormatan PD mengumumkan memecat Nazar dari bendahara umum PD.

Hingga kini elit PD belum ada yang bersedia mengkonfirmasi kisah kemurkaan SBY itu. Hampir dua bulan waktu berlalu. Nazar pun sudah dipecat dari PD. SBY sudah memerintahkan Anas agar membereskan kemelut partai dan menindak tegas kader bermasalah. Tapi perkembangan politik semakin tidak terkendali. Nazar yang dipecat melancarkan balas dendam dan tidak bosan menguliti borok elit PD. Dari persembunyiannya, Nazar semakin berani mengobok-obok borok PD.

Belum lama ini Nazar mempermalukan SBY dan elit PD yang tidak mempercayai pesan BlackBerry yang dikirim ke wartawan. Nazar muncul di TV lewat wawancara via telepon. Pernyataan Nazar hampir mirip dengan BBM yang dikirimnya pada wartawan yang diragukan SBY dan elit PD. Hanya saja Nazar semakin fokus menyerang Anas.

"Anas otak besarnya (suap Wisma Atlet). Memang dia aktornya," ujar Nazaruddin dalam wawancara lewat telepon dengan Metro TV. Nazar mengaku sebagai bawahan hanya melaksanakan perintah Anas. Sementara keputusan ada di tangan Anas.

Tudingan teranyar Nazar dibantah Anas. Mantan anggota KPU ini balik menantang mantan teman dekatnya itu untuk menyerahkan diri ke KPK.Ia pun menyatakan Nazar telah disetir."Saya makin yakin dia digunakan oleh kepentingan politik pihak lain untuk merusak nama saya," kata Anas.

Meski Anas membantah, tapi tidak pelak kemunculan Nazar yang masih menjadi buron interpol di TV itu membuat PD yang akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pada 23 Juli 2011 mendatang semakin panas.

Pernyataan-pernyataan Nazar membuat kubu Anas menjadi bulan-bulanan. Seperti diketahui, PD terbagi dalam tiga friksi sejak kongres di Bandung yakni kubu Anas, kubu Marzuki Alie dan kubu Andi Mallarangeng.

Pendiri PD TB Silalahi mengungkapkan hingga kini friksi di PD belum berhasil disatukan.
Lemahnya gaya kepemimpinan Anas menjadi salah satu penyebab friksi ini semakin terlihat karena Anas tetap eksklusif.

Setiap pergi ke mana-mana, Anas selalu mengajak orang-orang yang saat kongres menjadi tim suksesnya. "Kalau kemana-mana orang yang ikut ya itu-itu saja. Jhonny Allen, Sutan Bhatoegana atau Ruhut. Kalau seperti ini bagaimana orang tidak menduga masih ada kubu-kubuan?" sesal Silalahi.

Fungsionaris PD yang kini menjabat sebagai Sekertaris SC Rakornas PD Ferry Juliantono membantah tudingan TB Silalahi. Menurut Ferry, langkah Anas saat terpilih menjadi Ketua Umum justru sangat akomodatif terhadap lawan-lawan politiknya saat di kongres. Sebab orang-orang Marzuki dan Andi Mallarangeng diikutsertakan dalam kepenguruan.

"Kalau di partai lain, kubu yang menang akan menyingkirkan kubu lawan hingga ke akar-akarnya. Tapi Anas justru memasukan orang-orang dari kubu lawan ke dalam kepengurusan," jelas Ferry.

***

Kasus Nazar tidak bisa dipungkiri membuat friksi di PD semakin mengeras. Suasana di partai berlambang Mercy ini ibarat sedang perang. Masing-masing kubu telah menyiapkan strategi agar tidak tersingkir. Pasalnya wacana bersih-bersih terus digulirkan setelah Nazar dipecat dari DPR dan PD.

Sumber detikcom menyebutkan, saat ini kubu Anas dalam kondisi tertekan. Dalam setiap pertemuan di PD, kubu Anas menjadi bahan sindiran. Tidak itu saja, mereka pun mulai 'diasingkan'.

"Saat ini saja dalam setiap rapat di DPP, Ruhut Sitompul dan Benny K Harman selalu jadi ledekan. Soalnya Benny dan Ruhut sebelumnya mendampingi Nazar dalam jumpa pers sebelum Nazar kabur. Teman-teman di DPP bilang wah dapat banyak nih," jelas sumber detikcom, yang merupakan salah satu pengurus di DPP PD.

Bukan hanya jadi bahan ledekan, sejumlah pengurus PD saat ini juga mulai menunjukkan sikap kurang suka terhadap orang-orang dekat Anas. Mereka saat ini mulai kasak-kusuk terhadap perilaku orang-orang Anas yang saat ini menjadi pengurus.

Salah satu pengurus yang saat ini jadi omongan sejumlah pengurus PD adalah Wakil Ketua Umum PD Jhonny Allen Marbun.

Sumber detikcom itu mengatakan, beberapa pengurus PD yang merupakan purnawirawan TNI menampakkan ketidaksenangannya pada Jhonny yang kini menjabat Ketua Steering Commitee (SC) Rakornas PD. Mereka mengeluhkan sikap Jhonny yang dianggap arogan dalam setiap rapat SC yang dilakukan di kantor DPP PD .

"Bayangkan purnawirawan jenderal bintang 3 saja sudah tidak digubris pendapatnya. Ini bikin kesal sejumlah pengurus yang juga mantan tentara," terang sumber detikcom yang juga menjadi anggota SC Rakornas PD.

Bila kubu Anas dalam kondisi tertekan, kubu SBY justru berada di atas angin. Kubu Andi dan SBY sedang menunggu Anas akhirnya akan lengser sendiri karena kasus yang ditudingkan Nazar diproses hukum. Sementara kubu Marzuki tengah was-was karena juga disebut-sebut juga memiliki hubungan dengan Nazar.

Pengamat Politik dari Indobarometer Muhammad Qodari melihat sudah terjadi saling injak antar sesama elit PD. Para pengurus partai yang harusnya merapatkan barisan justru melakukan aksi saling serang. Akibatnya kerusakan yang dilakukan oleh Nazar semakin menjadi-jadi lantaran ditambah kisruh elit-elit PD sendiri.

Bagi Qodari, kondisi PD saat ini ibaratnya tengah menuju jurang kehancuran. Saat ini kerusakan bukan hanya pada sisi elektoral melainkan di internal."Dari hulu ke hilir PD sudah mengalami kehancuran," kata Qodari.[detik.com]


0 komentar:

Poskan Komentar